QS 53: 39-40). Dalam surah Al-An`am ayat 164, Allah berfirman: Katakanlah: "Apakah aku akan mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan segala sesuatu. Dan setiap orang akan (merasakan) kejelekan dari apa yang diupayakannya (kasaba); dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.
DalamIslam, teguran yang kedua ini dikenal dengan istilah istidrâj, yakni situasi yang dialami seseorang yang terlihat makin enak, makin nyaman, atau makin sejahtera. Alih-alih mengajak kita untuk menilai orang lain saat diri kita memperoleh rezeki atau nikmat, pengarang al-Hikam ini justru menganjurkan kita untuk mengoreksi diri sendiri
Ibnuhazm azh zhahiri mengatakan: Disaat menilai orang lain tentunya kita hanya bisa menilai dari lahiriyahnya saja. MUI nilai kutipan Ahok tentang surah Al Maidah hina Jadi, aktivitas menilai orang (taqwim) bukanlah hal yang tabu dalam islam. Menilai orang lain menurut islam. Sebab menilai hati seseorang itu tidak ada kemampuan manusia.
MenghinaOrang Lain di Media Sosial Menurut Pandangan Islam. Kumparan • Sat, 02 Apr 2022 17:46 14 . Dalam Islam, menghina, mencela, atau mengolok-olok orang lain termasuk perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. #userstory Sat, 19 Mar 2022 21:10. Hadist Tentang Pacaran, Bagaimana Menurut Pandangan Islam? Tue, 10 May 2022 22:41. Ciri Anak
Terakhirdiperbaharui: Kamis, 27 Mei 2021 pukul 1:31 pm. Tautan: Allah Tidak Menilai Seseorang Dengan Rupa Atau Kekayaannya merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Nasihat-Nasihat Para Sahabat yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. pada 30 Rajab 1441 H / 25 Maret 2020 M. Daftar Isi [ sembunyikan]
DariAbu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda bersabda, "Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu." (HR. Muslim) Menjadi Orang yang Beruntung
. Oleh Lina Maryani [email protected] SANGATLAH lucu apabila penilaian manusia menjadi tolok ukur untuk menilai baik atau buruknya seseorang dan untuk menilai banyak atau sedikitnya amal seseorang yang hanya bermodalkan apa yang ia lihat oleh matanya. Namun, tidak dipungkiri di zaman globalisasi saat ini banyak sekali manusia yang mencap baik atau buruknya seseorang hanya bermodalkan melihat instastory dan postingan media sosial. Menurut saya hal tersebut adalah salah besar. Lalu apakah penilaian manusia itu penting? Tentunya TIDAK. Foto Pinterest BACA JUGA Sudut Pandang Manusia Tidak ada yang berhak menilai seseorang menggunakan kacamatanya sendiri. Islam itu mengajarkan dan mendidik seorang hambanya untuk mengintrospeksi diri sendiri dan bukan sibuk mengintrospeksi orang lain apalagi untuk menilai baik atau buruknya orang lain karena apa yang dilihat belum tentu seutuhnya benar. Perlu diketahui bahwa tujuan kita hidup di dunia adalah “mardhaatillah” ridha Allah, dicintai Allah.Allah pun menegaskan dalam QS. Al-Bayyinah5 “Dan mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat serta menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” Sungguh sangatlah melelahkan mengejar penilaian manusia yang belum tentu sesuai dengan standar pemikiran dari manusia itu sendiri apalagi manusia diciptakan dengan sifat dan watak yang berbeda-beda, dan tidak mungkin kita mampu untuk berbuat kebaikan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh semua manusia. Foto Pinterest BACA JUGA Ingin Jadi Manusia yang Ikhlas? Ketahui 5 Ciri Ini Oleh sebab itu cukuplah Allah ridha atas kebaikan yang telah kita perbuat dan jangan pedulikan penilaian dari manusia, karena berbuat baik untuk mendapatkan penilaian manusia adalah perbuatan yang sia-sia. Fokuslah terhadap ridha Allah dan lakukanlah semua kebaikan karena Allah tanpa harus peduli oleh standar penilaian manusia, karena sesungguhnya kebaikan lillahi ta’ala yang telah diperbuat selama hidup akan menjadikan ladang amal yang akan menyelamatkanmu di akhirat kelak. []
Bagaimana cara mengatasi insecure? Semakin kekinian, kata insecure menjadi semakin populer. Insecure sendiri merupakan istilah yang menggambarkan perasaan tidak nyaman yang memperburuk suasana hati seperti menjadi gelisah, tidak percaya diri dan takut. Rasa insecure bisa timbul karena latar belakang dalam diri sendiri dan bisa juga dari luar diri. Contoh insecure dari diri sendiri adalah merasa tidak percaya diri karena tinggi badan yang tidak seperti rata-rata orang lain. Sedangkan insecure dari luar diri adalah perkataan buruk atau bahkan perlakuan buruk orang yang membuat seseorang tidak percaya diri. Dalam Islam, perasaan insecure termasuk salah satu hal yang sebaiknya tidak dirasakan. Karena dalam Surat At-Tiin ayat 4 telah tertulis bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya bentuk. Dengan kesempurnaan yang dimiliki manusia dibanding makhluk-makhluk lain, alangkah baiknya kita menjauhi sikap insecure. Ayat tersebut memperkuat alasan kita agar tidak perlu merasa insecure. Baca juga Sifat remaja gaul yang islami dan wajib kita miliki Tapi, jika insecure sudah terlanjur kita rasakan maka ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya. Langkah-langkah berikut baik untuk dilakukan saat merasa insecure maupun untuk mencegah rasa insecure datang. Cara mengatasi insecure Jangan mudah menilai rendah diri sendiri Kemampuan menilai seseorang merupakan kemampuan yang alami kita miliki. Tak hanya bisa menilai orang lain, kita pun bisa menilai diri kita sendiri. Tapi, akan jadi sesuatu yang sangat disayangkan jika kita justru banyak menilai diri sendiri terlalu buruk. Memahami keburukan diri sendiri sebenarnya baik untuk introspeksi diri dan mengontrol diri untuk tidak melakulan keburukan yang sama. Namun terlalu rendah menilai diri sendiri bukan hanya tidak disukai Allah, tapi juga bisa berdampak pada mental kita. Cara mengatasi insecure Berkumpul dengan lingkungan yang mendukung Kita hidup dihadapkan dengan berbagai pilihan untuk berkumpul dengan orang-orang seperti apa. Maka dari itu, kita harus pintar memilih lingkungan pertemanan. Sebaiknya, bertemanlah dengan orang-orang yang memberi dampak positif dan afirmasi positif untuk kita. Teman yang banyak membagikan ilmu dan pengetahuan, serta mengerti kelemahan dan kebaikan kita adalah teman yang penting untuk kita miliki. Semoga Allah senantiasa mengumpulkan kita di lingkungan yang cinta dengan Allah dan Rosul-Nya. Terkini
Sikap membanding-bandingkan merupakan kebiasaan yang kerap kali dilakukan seseorang, entah membandingkan diri dengan orang lain dalam hal jabatan, karier, kekayaan, dan sebagainya. Bisa juga membandingkan orang lain dengan pihak lain seperti membanding-bandingkan prestasi anak sendiri dengan teman sekelasnya. Lantas bagaimana pandangan Islam dengan sikap demikian? Membandingkan diri dengan orang lain atau orang lain dengan pihak lain, bisa tidak boleh dan bisa juga boleh, bahkan dianjurkan. Yang tidak diperbolehkan adalah ketika sikap membandingkan ini membuat kita kurang bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Dalam Al-Qur’an disebutkan, وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا Artinya, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS An-Nisa [3] 32 Ayat di atas berpesan kepada kita agar jangan membanding-bandingkan diri dengan orang lain sehingga muncul sifat iri atau hasud. Misalnya, membandingkan jatah rezeki yang telah Allah bagikan kepada hamba-Nya. Sebab, jika sudah muncul sifat iri akan membuat seseorang lupa diri sehingga dikhawatirkan akan menghalalkan segala cara agar bisa mengungguli orang lain. Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [1981], juz X, halaman 82. Terkait bahaya sifat hasud, ada sejumlah ayat Al-Qur’an, hadits, dan pesan para sahabat Nabi atsar yang sudah menyinggungnya. Dalam satu hadits diriwayatkan وعنْ أنَسٍ رضي اللَّه عنهُ قال قال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم لا تَقَاطَعُوا، ولا تَدابروا، ولا تباغضُوا، ولا تحاسدُوا، وكُونُوا عِبادَ اللَّهِ إخْواناً. ولا يحِلُّ لمُسْلِمٍ أنْ يهْجُرَ أخَاهُ فَوقَ ثَلاثٍ. متفقٌ عليه Artinya, “Dari Anas ra, berkata, Rasulullah saw bersabda, Janganlah engkau semua saling memutuskan hubungan persahabatan atau kekeluargaan, jangan saling membelakangi, jangan saling membenci serta jangan pula saling mendengki. Jadilah engkau semua, hai hamba-hamba Allah, sebagai saudara-saudara. Tidak boleh seorang Muslim meninggalkan tidak menyapa saudaranya lebih dari tiga hari.’” Muttafaq alaih Ibnu Mas’ud pernah menyampaikan bahwa orang yang memiliki sifat hasud bagaikan orang yang memusuhi nikmat Allah. Sebab, ia tidak senang ketika ada orang lain mendapat nikmat yang telah Allah anugerahkan. Sebaliknya, ia akan bertepuk tangan jika mihat orang yang dihasudinya hancur. Kendati sikap membanding-bandingkan tidak diperbolehkan, ada juga yang diperbolehkan, yaitu ketika dilakukan dengan tujuan supaya mendapat motivasi dari orang lain. Misalnya, membandingkan diri dengan orang lain yang memiliki semangat belajar lebih giat atau kualitas ibadah tinggi sehingga kita juga ikut terpacu untuk meningkatkan kualitas diri. Sebab itu Rasulullah saw menganjurkan kita agar sering bergaul dengan orang saleh agar kita banyak berintrospeksi diri dan terus mendapat suntikan semangat beramal baik. Nabi saw bersabda إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ؛ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً. متفق عليه Artinya, “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dan tukang besi. Penjual minyak wangi, jika ia tidak menghadiahkan padamu minyak wangi, maka engkau akan beli darinya, atau paling tidak engkau akan ketularan harumnya. Sedangkan tukang besi, jika bajumu tidak terbakar akibat terkena percikan api yang ada di tungku besinya, setidak-tidaknya engkau akan keluar dari tempat kerjanya dalam keadaan bau asap.” Muttafaq Alaih Berbeda dalam urusan akhirat, jika membandingkan diri dengan orang lain dalam urusan duniawi seperti karier, kekayaan, prestasi, dan sebagainya, kita dianjurkan untuk melihat orang yang levelnya berada di bawah nasib kita. Dengan begitu harapannya akan membuat kita tetap bisa bersyukur karena Allah swt masih memberi yang lebih baik kepada diri kita dibanding orang lain. Dalam satu hadits diriwayatkan عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ؛ فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ Artinya, “Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu, beliau berkata, Rasulullah saw bersabda, Lihatlah siapa yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, sebab yang demikian lebih patut agar kalian tidak memandang remeh nikmat Allah atas kalian.’” HR al-Bukhari. Melaui hadits ini, Imam Ibnu Hajar menyampaikan, jika dalam urusan ibadah hendaknya seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki kualitas lebih baik darinya sehingga menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas ibadah dirinya. Berbeda dalam urusan duniawi, hendaknya ia membandingkan dirinya dengan orang lain yang nasibnya berada di bawahnya sehingga ia bisa tetap bersyukur telah diberi kelebihan. Ibnu Hajar, Fathul Bari, juz XI, halaman 276. Simpulannya, jika membandingkan diri dalam urusan duniawi harus dicermati terlebih dulu. Jika sikap tersebut membuat kita semangat untuk meningkatkan kualitas diri maka boleh, bahkan dianjurkan. Seperti membandingkan diri dengan semangat belajar orang lain. Sebaliknya, jika hal demikian justru membuat kita kurang bersyukur atau timbul hasud, maka tidak boleh. Seperti membandingkan diri dengan orang lain terkait besaran gaji. Sementara dalam hal membandingkan diri dalam urusan akhirat maka mutlak diperbolehkan karena bisa membuat semangat ibadah kita terpacu. Seperti membandingkan diri dengan orang lain yang lebih rajin menjalankan shalat berjamaah. Wallahu a’lam. Ustadz Muhamad Abror, Penulis Keislaman NU Online, Alumnus Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon dan Ma'had Aly Saidusshiddiqiyah Jakarta
menilai orang lain menurut islam